Artikel

Penny Grow has established itself as the go-to source for breaking technology services in wholesale and retail banking, capital markets, and insurance.

October 18, 2025

Menjelajah Makna Doa Dijauhkan dari Orang Jahat: Merajut Ketenangan Hati dalam Lindungan Ilahi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Saudara-saudariku yang dirahmati Allah, dalam perjalanan hidup ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai episode yang menguji keimanan dan ketenangan batin. Ada saatnya mentari bersinar cerah, namun tak jarang pula awan kelabu menggelayut, membawa serta angin persoalan, termasuk perihal berinteraksi dengan sesama manusia. Kita semua tentu mendambakan kehidupan yang damai, penuh kasih sayang, dan jauh dari segala bentuk keburukan. Namun, realita tak selalu sejalan dengan harapan. Di tengah keramaian dunia ini, tak dapat kita pungkiri bahwa ada kalanya kita berhadapan dengan apa yang kita sebut sebagai ‘orang jahat’ atau situasi yang penuh keburukan.

Kondisi inilah yang seringkali mendorong hati kita untuk mencari perlindungan, bersandar pada kekuatan yang Maha Kuasa. Dan di sinilah, kekuatan doa hadir sebagai lentera di tengah kegelapan, sebagai perisai yang tak terlihat namun kokoh. Ada satu jenis doa yang seringkali terlintas di benak banyak dari kita, yaitu doa dijauhkan dari orang jahat. Namun, sudahkah kita memahami makna yang lebih dalam dari doa ini? Bukan sekadar permintaan perlindungan, melainkan juga sebuah perjalanan spiritual untuk merajut ketenangan dan mempertebal tawakal kepada Allah SWT.

Memahami Apa Itu “Jahat” dan Mengapa Kita Membutuhkan Perlindungan

Ketika kita berbicara tentang ‘orang jahat’, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada pelaku kriminal, penipu, atau orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan buruk. Namun, dalam konteks kehidupan sehari-hari, keburukan itu bisa berwujud lebih halus, lebih kompleks, dan bahkan seringkali tak terduga. Kita bisa saja berhadapan dengan lisan yang memfitnah, hati yang dengki, niat yang buruk terselubung senyum, atau bahkan perilaku manipulatif yang merugikan. Keburukan semacam ini, meski tak selalu berujung pada kekerasan fisik, mampu mengikis kedamaian batin, menghancurkan reputasi, atau bahkan meruntuhkan semangat hidup seseorang.

Banyak dari kita, mungkin seorang pekerja keras yang mendambakan rezeki halal, seorang ibu rumah tangga yang ingin keluarganya tentram, atau seorang individu yang tulus dalam berinteraksi, pernah merasakan pahitnya disakiti oleh keburukan orang lain. Ada yang menjadi korban fitnah di tempat kerja, ada yang keluarganya diganggu oleh tetangga yang berhati busuk, atau bahkan ada yang asetnya dirampas oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kisah-kisah semacam ini menegaskan bahwa kebutuhan akan perlindungan adalah naluri dasar manusia. Oleh karena itu, memanjatkan doa dijauhkan dari orang jahat adalah wujud pengakuan kita akan keterbatasan diri dan keyakinan kita pada kemahakuasaan Allah sebagai sebaik-baik Pelindung.

Kekuatan Doa sebagai Benteng Pelindung

Doa adalah inti dari ibadah, jembatan penghubung antara hamba dengan Sang Pencipta. Ketika kita mengangkat tangan, hati kita sedang berbicara. Ketika lisan kita melafazkan, jiwa kita sedang memohon. Dalam setiap kesulitan, dalam setiap kekhawatiran, Allah SWT telah menganugerahkan kita “senjata” yang paling ampuh, yaitu doa. Melalui doa, kita meletakkan seluruh beban dan kekhawatiran kita di hadapan-Nya, menyerahkan segala urusan kepada Dzat yang memegang kendali atas segala sesuatu.

Bagi kita yang sering merasa gelisah dengan potensi keburukan di sekitar, doa dijauhkan dari orang jahat adalah wujud optimisme bahwa Allah akan selalu ada. Doa bukan hanya sekadar ucapan, melainkan manifestasi keyakinan yang kuat. Keyakinan bahwa tidak ada satu pun keburukan yang dapat menimpa kita tanpa izin-Nya, dan tidak ada satu pun kebaikan yang dapat terwujud tanpa kehendak-Nya. Doa adalah pengakuan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya tempat berlindung yang hakiki, yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Dalil-Dalil Indah dalam Al-Qur’an dan Hadits tentang Perlindungan

Allah SWT, melalui firman-Nya dan sabda Rasulullah SAW, telah banyak mengajarkan kita tentang bagaimana memohon perlindungan dari segala bentuk keburukan. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memahami naluri manusia akan rasa aman.

1. Ayat Kursi (Surah Al-Baqarah: 255)

Ayat ini dikenal sebagai salah satu ayat paling agung dalam Al-Qur’an, yang mengandung makna keesaan, kebesaran, dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Membacanya secara rutin, terutama setelah shalat fardhu atau sebelum tidur, diyakini dapat mendatangkan perlindungan dari gangguan setan dan keburukan laiya.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Melalui ayat ini, kita diajak untuk merenungkan keagungan Allah yang tidak pernah lelah menjaga dan memelihara seluruh alam semesta. Jika Dia mampu menjaga langit dan bumi, apalagi hanya sekadar menjaga diri kita dari keburukan manusia atau makhluk-Nya yang lain.

2. Surah Al-Falaq dan An-Naas

Dua surah terakhir dalam Al-Qur’an ini sering disebut sebagai Al-Mu’awwidzatain, yaitu dua surah pelindung. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk membacanya setiap pagi dan petang, serta sebelum tidur, untuk memohon perlindungan dari segala jenis kejahatan.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۝ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۝ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ۝ وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ ۝ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۝ مَلِكِ النَّاسِ ۝ إِلَٰهِ النَّاسِ ۝ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ۝ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۝ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Naas)

Melalui Al-Falaq, kita secara spesifik memohon perlindungan dari keburukan yang nyata seperti sihir dan kedengkian, sementara An-Naas melindungi kita dari bisikan jahat yang datang dari jin dan manusia, yang bisa merusak hati dan pikiran kita. Kedua surah ini adalah doa dijauhkan dari orang jahat dalam bentuk yang paling ringkas dan padat.

3. Doa Perlindungan dari Kejahatan Diri Sendiri

Tak jarang, kejahatan terbesar justru berasal dari dalam diri kita sendiri. Niat buruk, hasad, kesombongan, atau bahkan kemalasan bisa menjadi celah bagi keburukan untuk masuk. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk juga memohon perlindungan dari kejahatan diri sendiri:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan hasratku (syahwatku).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Doa ini mengingatkan kita bahwa untuk dijauhkan dari orang jahat, kita harus terlebih dahulu memastikan bahwa diri kita sendiri tidak menjadi sumber kejahatan. Sebuah renungan yang mendalam, bukan?

4. Tawakal Penuh: “Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil”

Ketika segala ikhtiar telah dilakukan dan doa telah dipanjatkan, saatnya kita memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan penuh keyakinan. Firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 173 menjadi penguat hati:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.'”

Ungkapan “Hasbunallah wa ni’mal wakil” adalah puncak tawakal, sebuah pernyataan keimanan bahwa hanya Allah-lah yang cukup bagi kita sebagai Penolong dan Pelindung. Doa ini adalah penenang hati yang paling ampuh ketika kita merasa terancam atau terbebani oleh keburukan orang lain.

Lebih dari Sekadar Memohon: Tindakayata dan Refleksi Diri

Memanjatkan doa dijauhkan dari orang jahat bukanlah berarti kita pasif dan hanya menunggu keajaiban. Doa harus diiringi dengan ikhtiar nyata dan kebijaksanaan dalam bertindak. Beberapa langkah praktis yang bisa kita lakukan, antara lain:

  • Berhati-hati dalam Pergaulan: Pilih teman dan lingkungan yang baik. Sebisa mungkin, hindari berinteraksi terlalu dekat dengan orang-orang yang jelas menunjukkan sifat-sifat buruk.
  • Menjaga Lisan dan Perilaku: Terkadang, tanpa sengaja, lisan atau perilaku kita bisa memancing permusuhan atau rasa dengki orang lain. Berusaha untuk selalu santun, rendah hati, dan tidak menyombongkan diri adalah bentuk pencegahan yang efektif.
  • Membalas Kebaikan dengan Kebaikan: Jika memungkinkan, balaslah keburukan dengan kebaikan. Ini adalah ajaran mulia dalam Islam yang seringkali mampu melunakkan hati yang keras atau meredakan permusuhan.
  • Sabar dan Tawakal: Ketika keburukan tetap datang meski kita telah berusaha, bersabarlah. Percayalah bahwa Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya sendirian. Setiap ujian adalah cara-Nya untuk membersihkan dosa dan mengangkat derajat kita.

Dan yang tak kalah penting, mari kita gunakan kesempatan ini untuk merenung: apakah kita sendiri sudah berusaha untuk tidak menjadi ‘orang jahat’ bagi orang lain? Kita hidup di tengah masyarakat, berinteraksi dengan banyak kepala dan hati. Mungkin saja, tanpa kita sadari, lisan kita pernah menyakiti, perbuatan kita pernah merugikan, atau hati kita pernah berprasangka buruk kepada orang lain. Doa dijauhkan dari orang jahat seharusnya juga menjadi motivasi bagi kita untuk introspeksi diri, untuk senantiasa memperbaiki akhlak, dan menjadi pribadi yang menebarkan kebaikan. Karena dakwah terbaik adalah dengan akhlak, dan perlindungan terbaik adalah menjaga diri dari berbuat dzalim kepada siapapun.

Pesan Penutup: Ketenangan dalam Dekapan Doa

Saudara-saudariku yang budiman, kehidupan ini adalah ladang ujian, namun juga ladang pahala. Kita mungkin tidak bisa memilih siapa yang akan kita temui di jalan, tapi kita bisa memilih bagaimana cara kita menyikapi mereka, dan kepada siapa kita bersandar. Dengan memanjatkan doa dijauhkan dari orang jahat, kita bukan hanya meminta perlindungan, melainkan juga sedang mengukuhkan keyakinan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari segala marabahaya di dunia ini. Kekuatan Allah SWT.

Marilah kita senantiasa membasahi lisan kita dengan zikir dan doa, memohon agar Allah senantiasa melindungi kita dari segala bentuk keburukan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang berasal dari manusia maupun jin, dan bahkan dari keburukan diri kita sendiri. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu berada dalam lindungan dan kasih sayang-Nya, yang tenang hatinya, dan yang senantiasa menebarkan kebaikan di mana pun kita berada. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.